Sabtu, 27 Maret 2010

metodologi penelitian

METODOLOGI PENELITIAN


PANDUAN UNTUK MAHASISWA S-1



Oleh: Drs. Sutarto, M.Si



METODOLOGI PENELITIAN


PANDUAN UNTUK MAHASISWA S-1



Oleh: Drs. Sutarto, M.Si




BAB I
PENDAHULUAN

Suatu kebenaran dapat dapat ditemukan melalui proses ilmiah dan nonilmiah. Kebenaran yang ditemukan dengan proses nonilmiah meliputi: (1) akal sehat; (2) intuitif (melalui proses yang tak disadari atau tanpa berfikir terlebih dahulu); (3) trial and error (secara coba-coba tanpa kesadaran akan pemecahan masalah tertentu/kebetulan); (4) otoritas (kewibawaan seorang ilmuan/pejabat tertentu), pendapat mereka umumnya sering diterima orang tanpa diuji karena dipandang sudah benar; (5) prasangka dan (6) wahyu.
Proses kegiatan disebut sebagai kegiatan ilmiah diantaranya adalah: kegiatan penelitian (research), pengembangan (development) dan evaluasi (evaluation) apabila yang dipermasalahkan berada dikawasan ilmu dan menggunakan metode berfikir ilmiah dalam pengkajiannya.
Sedangkan ciri khas suatu karya tulis ilmiah yaitu: kebenarannya, metode kajiannya dan tata cara penelitiannya bersifat keilmuan. Kemudian bentuk dan format penelitian ilmiah sangat beragam mulai dari laporan ilmiah yang berbentuk buku atau artikel sampai dengan gagasan yang ditulis melalui media massa.
Tidak semua karya tulis itu merupakan karya tulis ilmiah. (ilmiah artinya mempunyai sifat keilmuan). Suatu karya tulis disebut karya tulis ilmiah apabila sedikitnya memiliki 3 syarat:
1. Isi kajiannya pada lingkup pengetahuan ilmiah.
2. Langkah pengerjaannya dijiwai atau menggunakan metode ilmiah (berfikir ilmiah).
3. Sosok tampilannya sesuai dan telah memenuhi persyaratan sebagai tulisan keilmuan.
Ada perbedaan antara pengetahuan (knowledge) dan pengetahuan ilmiah (ilmu, science). Pengetahuan adalah segala sesuatu yang kita ketahui, sedangkan ilmu pengetahuan bagian dari pengetahuan yang mempunyai ciri khusus.
Proses kerja ilmiah dicirikan dengan digunakannya metode keilmuan yang ditandai dengan adanya:
1. Argumentasi teoritik yang benar, sahih dan relefan.
2. Dukungan faktor empiris
3. Analisa kajian yang mempertautkan antara argumentasi teoritik dengan faktor empirik terhadap masalah yang dikaji.

Ada Tiga Macam Kegiatan Ilmiah Dasar
1. Penelitian (research)
Suatu kegiatan pengkajian terhadap suatu permasalahan yang dilakukan berdasarkan metode ilmiah yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan ilmiah dari hasil yang dipermasalahkan.
Karya tulis dapat dikatagorikan menjadi tiga macam:
a. Laporan hasil penelitian
b. Tulisan/ makalah ilmiah ringkasan hasil penelitian
c. Tulisan ilmiah populer kegiatan penelitian
2. Pengembangan (development)
Suatu kegiatan yang dapat berupa perancangan atau rekayasa yang dilakukan dengan berdasar metode berfikir ilmiah guna memecahkan: permasalahan yang nyata terjadi, sehingga hasil kerja pengembangan berupa pengetahuan ilmiah atau teknologi yang digunakan memecahkan masalah tersebut.
Karya Ilmiah dapat dibedakan menjadi:
a. Laporan hasil Pengembangan.
b. Tulisan makalah ringkasan hasil pengembangan
3. Evaluasi (evalution)
Suatu kegiatan yang bertujuan untuk mendapatkan informasi yang diperoleh melalui tata cara tertentu berdasar pada metode berfikir ilmiah. Hasil kerja evaluasi adalah pengetahuan ilmiah yang digunakan untuk pengambilan kebijakan terhadap hal yang dipermasalahkan.

MACAM-MACAM KARYA TULIS ILMIAH
1. Laporan Hasil Kegiatan Ilmiah
Kerja penelitian, pengambangan dan evaluasi memerlukan pelaporan hasil yang disebut buku laporan hasil.
Kerangka isi dan format laporan hasil dapat berbeda-bedasesuai dengan tujuan pelaporan, namun pada umumnya terdiri dari 3 bagian utama, yaitu:
A. Bagian Pendahuluan , terdiri dari :
1. Halaman Judul
2. Lembar Pengesahan
3. Kata Pengantar
4. Daftar Isi
5. Daftar Tabel
6. Daftar Gambar
7. Daftar Lampiran
8. Abstraksi/ringkasan
B. Bagian Isi
1. Permasalahan atau Pendahuluan
2. Kajian Teori atau Pembahasan Kepustakaan
3. Metodologi dan Prosedur Pengkajian
4. Hasil-hasil dan Diskusi Hasil Kajian
5. Kesimpulan dan Saran
C. Bagian penunjang
1. Daftar Pustaka
2. Lampiran-lampiran
2. Tulisan Ilmiah
Skripsi adalah karya tulis ilmiah resmi akhir seorang mahasiswa dalam menyelesaikan Program Sarjana (S1). Skripsi merupakan bukti kemampuan akademik mahasiswa dalam penelitian yang berhubungan dengan masalah yang dikemukakan dalam skripsi. Skripsi disusun dan dipertahankan dalam suatu sidang ujian.
Skripsi sebagai karya ilmiah yang ditulis sebagai syarat yang dituntut dari mahasiswa untuk menyelesaikan program studi.
Sistematika Penelitian skripsi adalah sebagai berikut:
HALAMAN JUDUL
PERNYATAAN, tentang keaslihan karya ilmiah
HALAMAN PERSETUJUAN
ABSTRAK (tidak lebih dari 1 halaman)
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL (bila ada)
DAFTAR GAMBAR (bila ada)
DAFTAR LAMIPIRAN (bila ada)
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Pembatasan Masalah
D. Perumusan Masalah
E. Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian
F. Kerangka Berikir
G. Hipotesis
H. Sistematika Penelitian
BAB II. KAJIAN PUSTAKA/KERANGKA TEORETIS
(diberi judul sesuai dengan isi/teori yang dibahas dalam bab ini)
A. Deskripsi Teori (Sesuai Fakultas dan Jurusan Peneliti)
B. Pengertian ( Teori dari Variabel X)
C. Pengertian (Teori dari Variabel Y )
BAB III. METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
B. Definisi dan Operasionalisasi Variabel
C. Populasi dan Sampel
D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
E. Analisis Data
F. Rancangan Uji Hipotesis
G. Lokasi dan Jadwal Penelitian
BAB IV. PEMBAHASAN HASIL-HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Data
B. Pengujian Persyaratan Analisis
1. Uji Validitas dan Reliabilitas Data
2. Uji Normalitas Data
3. Perhitungan Nilai Korelasi
4. Uji Linier Persamaan Regresi
C. Pengujian Hipotesis
D. Pembahasan Hasil Penelitian
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP PENELITI
3. Buku
(Dalam hal ini tidak akan dibahas)

BAB II
PENGERTIAN METODOLOGI PENELITIAN

Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri ilmiah, yaitu rasional, empiris, dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian itu dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal, sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris berarti cara-cara yang dilakukan itu dapat diamati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Sistematis artinya proses yang diguanakan dalam penelitian menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersiafat logis.
Data yang diperoleh melalui penelitian adalah data empiris (teramati) yang mempunyai kriteria tertentu yaitu valid. Valid menunjukkan derajad ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada obyek dengan data yang dapat disimpulkan oleh peneliti. Misalnya dalam kasus korupsi, jumlah yang dikorupsi sebenarnya 100 milyar, sementara peneliti melaporkan jauh dibawah atau diatas 100 milyar, maka derajat validitas hasil penelitian itu rendah. Untuk mendapatkan data yang langsung valid dalam penelitian seriang sulit dilakukan, oleh karena itu data yang terkumpul sebelum diketahui validitasnya, dapat diuji melalui pengujian reliabilitas dan obyektivitas. Pada umumnya kalau data itu reliabel dan obyektif, maka terdapat kecenderungan data tersebut akan valid.
Data yang valid pasti reliabel dan obyektif. Reliabel berkenaan derajad konsistensi keajegan data dalam interval waktu tertentu. Misalnya pada hari pertama wawancara, sumber data mengatakan bahwa jumlah karyawan yang berdemonstrasi sebanyak 1000 orang, maka besok atau lusa pun sumber data tersebut kalau ditanya akan tetap mengatakan bahwa jumlah karyawan yang berdemonstrasi tetap sebanyak 1000 orang. Data yang relaibel belum tentu valid. Obyektivitas berkenaan dengan interpersonal agreement (kesepakatan antar banyak orang). Bila banyak orang yang menyetujui bahwa karyawan yang berdemonstrasi sebanyak 1000 orang, maka data tersebut adalah data yang obyektif (obyektif lawanya subyektif). Kalau ada beberapa kelompok peneliti memberikan data yang berbeda-beda pada satu obyek penelitian, maka data penelitian tersebut tidak obyektif, sehingga tidak valid.
Validitas data hasil penelitian dapat diperoleh dengan cara menggunakan instrumen penelitian yang valid, menggunakan sumber data yang tepat dan cukup jumlahnya serta menggunakan metode pengaumpulan dan analisis data yang benar. Untuk mendapatkan data yang reliabel, maka instrumen penelitian harus reliabel. Selanjutnya untuk mendapatkan data yang obyektif, maka perlu digunakan sampel yang besar atau sumber data yang mendekati jumlah populasi. Dalam prakteknya, sebelum pengumpulan data dilakukan maka instrumen penelitian harus diuji terlebih dahulu validitasnya dan reliabilitasnya.
Setiap penelitian mempunyai tujuan dan kegunaan tertentu. Secara umum tujuan penelitian ada tiga macam yaitu:
1. Penemuan
Penemuan berarti data yang diperoleh dalam penelitian itu adalah data yang betul-betul baru yang sebelumnya belum pernah diketahui.
2. Pembuktian.
Pembauktian berarti data yang diperoleh itu digunakan untuk membuktikan adanya keragu-raguan terhadap informasi atau pengetahuan tertentu.
3. Pengembangan.
Pengembangan berarti untuk memperdalam dan memeperluas pengetahuan yang telah ada.
Melalui penelitian manusia dapat menggunakan hasilnya. Secara umum data yang telah diperoleh dari penelitian dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah. Memahami berarti memperjelas suatu masalah atau informasi yang tidak diketahui dan selanjutnya menjadi tahu. Memecahkan berarti meminimalkan atau menghilangkan masalah, dan mengantisipasi berarti mengupayakan agar masalah tidak terjadi.
Metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan, dibuktikan dan dikembangkan suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah.
JENIS-JENIS PENELITIAN
1. Menurut Tujuan
Terdiri dari:
a. Penelitian murni, yaitu penelitian yang dilakukan atau diarahkan sekedar untuk memahami masalah organisasi secara mendalam (tanpa ingin menerapkan hasilnya), hasil penelitian yang diperoleh akan berguna untuk pengembangan ilmu administrasi atau manajemen.
b. Penelitian terapan, yaitu penelitian diarahkan untuk mendapatkan informasi yang dapat diagunakan untuk memecahkan masalah.
2. Menurut Metode.
Terdiri dari:
a. Penelitian Survey, adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi dan hubungan-hubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis, (Kerlinger: 1973).
Penelitian survey umumnya dilakukan untuk mengambil suatu generalisasi dari pengamatan yang tidak mendalam, (David Kline: 980)
b. Ex Post Facto, adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi dan kemudian merunut ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya kejadia tersebut. Penelitian ini menggunakan logika dasar yang sama dengan penelitian eksperimen yaitu jika x maka y, hanya saja dalam penelitian ini tidak ada manipulasi langsung terhadap varibel independen.
c. Penelitian eksperimen, adalah penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel lain dalam kondisi yang tekontrol secara ketat.
d. Penelitian Naturalistik (sering disebut metode kualitatif), adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek alamiah (lawan ekperimen), dimana peneliti adalah instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan). Analisis data bersifat induktif dan hasil penelitian menekankan makna dari pada generalisasi.
e. Penelitian Kebijakan (Policy Research), dimulai karena adanya masalah, dan masalah ini pada umumnya dimilikim oleh para administrator/manajer atau pengambil keputusan pada suatu organisasi. Majchrzak (1984) mendefinisikan Policy Research adalah suatu proses penelitian yang dilakukan pada, atau anailsis terhadap masalah-masalah sosial yang mendasar sehingga temuannya dapat direkomendasikan kepada pembuat keputusan untuk bertindak secara praktis dalam menyelesaiakn masalah.
f. Penelitian Tindakan ( Action Research), merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan meode kerja yang paling efisien, sehingga biaya produksi dapat ditekan dan produktivitas lembaga dapat meningkat. Penelitian dapat melibatkan peneliti dan karyawan untuk mengkaji bersama-sama tentang kelemahan dan kebaikan prosedur kerja, metode kerja, dan alat-alat kerja yang digunakan selama ini dan selanjutnya mendapatkan metode kerja baru yang dipandang paling efisien.
g. Penelitian evaluasi, berarti akan berfungsi untuk menjelaskan fenomena.
h. Penelitian Sejarah, berkenaan dengan analisis yang logis terhadap kejadian-kejadian yang berlangsung di masa lalu. Sumber data bisa primer, yaitu orang terlibat langsung dalam kejadian itu, atau sumber-sumber dokumentasi yang berkenaan dengan kejadian itu. Tujuan penelitian ini menurut Isac (1981) adalah untuk merekontruksi kejadian-kejadian masa lampau secara sistematis dan obyektif, melalui pengumpulan, evaluasi, verifikasi dan sintesa data diperoleh, sehingga dapat ditetapkan fakta-fakta untuk membuat suatu kesimpulan.
3. Menurut Tingkat Ekplanasinya, adalah tingkat penjelasan, yaitu bermaksud menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta hubungan antara satu variaberl dengan variabel yang lain.
Terdiri dari:
a. Penelitian Deskriptif , adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan antara variabel satu dengan variabel lainnya.
b. Penelitian Komparatif, adalah suatu penelitian yang bersifat membandingkan. Variabelnya sama denga variabel penelitian mandiri, tetapi untuk sampel lebih dari satu sata dalam waktu yang berbeda.
c. Penelitian hubungan/asosiatif, merupak penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antar dua variabel atau lebih. Penelitian ini mempunyai tingkat yang tertinggi bila dibandingkan dengan penelitian diskriptif dan komparatif. Dengan penelitian ini maka akan dapat dibangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelsakan, mermalakan dan mengontrol suatu gejala. Penelitian ini minimal terdapat dua variabel yang dihubungkan. Bentuk hubungan antara variabel ada tiga, yaitu: (1) simetris, adalah suatu bentuk hubungan karena munculnya bersama-sama; (2) kausal, adalah hubungan sebab akibat; dan (3) interaktif/timbal balik, adalah hubungan yang saling mempengaruhi.
4. Menurut Jenis Data dan Analisis, pada dasarnya penelitian ini adalah ingin mendapatkan data yang valid, reliabel dan obyektif tentang gejala tertentu.
Jenis data dan anailisisnya dalam penelitian dapat dikelompokkan menjadi tiga hal: (1) data kualitatif adalah data berbentuk kata, kalimat, skema dan gambar; (2) data kuantitatif, adalah data yang berbentuk angka; dan (3) data gabungan keduanya.

METODE PENELITIAN KUALITATIF
Metode Penelitian Kualitatif dilakukan dalam situasi yang wajar dan data yang dikumpulkan umumnya bersifat kualitatif. Metode Penelitian Kualitatif lebih berdasarkan pda filsafat fenomenologis yang mengutamakan penghayatan. Metode Penelitian Kualitatif berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif peneliti sendiri.
Responden dalam Metode Penelitian Kualitatif berkembang terus secara bertujuan sampai data yang dikumpulkan dianggap memuaskan. Alat pengumpul data atau instrument penelitian Metode Penelitian Kualitatif ialah si peneliti sendiri. Teknik pengumpulan data yang sering digunakan ialah observasi partisipasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik angket tidak digunakan dalam pengumpulan data.
Perbedaan istilah dalam Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
ASPEK KUANTITATIF KUALITATIF
Nilai Kebenaran Validitas internal Kredibilitas
Penerapan aplikasi Validitas ekternal (generalisasi) Fittingness transferability (mampu mentransfer kesesuaian)
Konsistensi Reliabilitas Auditability, dependability (mampu mengaudit, dapat dipercaya)
Netralitas objektivitas Confirmability (dapat dibenarkan)
Keterangan:
Kredibilitas ialah kesesuaian antara konsep peneliti dengan konsep responden.
Transferabilitas: apabila hasil penelitian kualitatif itu dapat digunakan atau diterapkan pada kasus atau situasi lainya.
Dependabilitas: apabila hasil penelitian kita memberikan hasil yang sama dengan penelitian yang diulangi pihak lain.

CIRI-CIRI METODE KUALITATIF
1. Sumber data berada dalam situasi yang wajar, tidak dimanipulasi oleh angket dan tidak dibuat-buat sebagai kelompok ekperimen.
2. Laporannya sangat deskriptif.
3. Mengutamakan proses dan produk
4. Peneliti sebagai instrument penelitian
5. Mencari makna, dipandang dari pikran dan persasaan responden.
6. Mementingkan data langsung (tangan pertama), oleh sebab itu pengumpulan datanya mengutamakan observasi partisipasi, wawancara dan dokumentas.
7. Menggunakan trionolasi, yaitu memeriksakan kebenaran data yang diperoleh kepada pihak lain.
8. Menonjolkan rincian yang kontekstual, yaitu menguraikan sesuatu secara rinci tidak terkotak-kotak.
9. Obyek yang diteliti dianggab berkedudukan yang sama dengan peneliti, peneliti bahkan belajar kepada respondennya.
10. Mengutamakan perspektif emic yaitu pendapat responden dari pada pendapat peneliti sendiri (eteic).
11. Mengadakan verivikasi melalui kasus yang bertentangan
12. Sampel dipilih secara porposif.
13. Menggunakan audit trail yaitu memeriksa data mentah, analisis dan kesimpulan kepada pihak lain biasanya pembimbing.
14. Parisispasi peneliti tidak mengganggu natural seting situasi yang wajar
15. Analisis data dilakukan sejak awal sampai penelitian berakhir
16. Disain penelitian tampil selama proses penelitian.

Perbedaan Metode Kuantitafif dengan kualitatif
Kuantitatif Kualitatif
Latar belakang masalah Nomotetis Ideografis
Rumusan masalah Tetap Emergent
Tujuan • Menguji teori
• Mendapatkan hubungan antara variabel
• Atomistic
• Generalisasi • Mengembangkan teori
• Mencari makna

• Wholistic
• Khusus
Teori yang digunakan Tetap sementara
Hipotetesis Tetap sementara
Penyususnan teori Logika deduktif Logika induktif
Waktu penelitian Cepat atau terbatas Lama atau bebas
Sampel • Banyak
• Tetap
• Umumnya acak
• Representatif • Sedikit
• Snowball
• Purposive
• Tidak representatif
Teknik pengumpulan data • Umumnya angket
• Wawancara berstruktur • Observasi partisipasi
• Tidak berstruktur
Instrumen penelitian Angket, wawancara, dokumentasi, observasi Peneliti sendiri
Analisis data • Statistic
• Deduktif
• Setelah data terkumpul • Non statistic
• Induktif
• Terus menerus
Hubunagan dengan responden • Kurang intim
• Hubungan peneliti-responden
• Jangka pendek • Intim
• Setara

• jangka panjang
Usulan Desain • Tetap
• Projektif
• Langkahnya jelas • Emergent
• Retrospektif
• Bebas
















BAB III
LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN

Proses penelitian akan sangat tergantung pada metode penelitian yang digunakan. Proses penelitian antara metode kuantitatif dan kualitatif berbeda, dimana proses penelitian kuantitatif bersifat linier, dan kualitatif bersifat serkuler. Proses penelitian dengan metode kuantitatif ditunjukkan pada gambar berikut:




















Pada dasarnya penelitian itu adalah untuk mencari jawaban dari suatu masalah. Masalah merupakan penyimpangan dari apa yang seharusnya dengan apa yang terjadi sesungguhnya. Penyimpangan antara aturan dengan pelaksanaan, teori dengan praktek, perencanaaan dengan pelaksanaan dsb. Penelitian kuantitatif bertolak dari studi pendahuluan, dari obyek yang diteliti (preliminary study) untuk mendapatkan yang betul-betul masalah. Masalah tidak dapat diperoleh dari belakang meja, oleh karena itu harus digali melalui studi pendahuluan, melalui fakta-fakta empiris.

1. Judul dan Pernyataan Maksud Penelitian
Judul penelitian (dapat dalam bentuk skripsi), dirumuskan dalam satu kalimat yang ringkas, komunikatif, dan afirmatif. Judul harus mencerminkan dan konsisten dengan ruang lingkup penelitian, tujuan penelitian, subjek penelitian, dan metode penelitian. Walaupun judul sudah harus dibuat sejak proposal penelitian dibuat, namun pada akhirnya judul dapat saja berubah sesuai dengan kesepakatan antara mahasiswa dengan para pembimbing yang bersangkutan berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan dan diolah.
Maksud penelitian skripsi, dirumuskan secara ringkas, yakni untuk memenuhi salah satu syarat menempuh ujian S1. Pernyataan mengenai maksud ini ditulis baik dalam sampul luar maupun sampul dalam.


BAB I. PENDAHULUAN
Bab I, tentang pendahuluan merupakan bagian awal dari penelitian. Pendahuluan ini berisi: Latar belakang masalah dan analisis masalah, rumusan maslah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, hipotesis, metode penelitian secara garis besar beserta teknik pengaumpulan data dan pendekatannya, lokasi dan sampel penelitian. Secara ringkas berikut ini dibahas satu persatu.
A. Latar Belakang Masalah
Latar belakang umumnya terkait dengan keseharian atau ketertarikan, keingintahuan sebagai salah satu syarat suatu ilmu yang berhubungan dengan: Kemampuan berfikir, Kemauan berfikir dan Penalaran (Analisis dan logis).
Pembahasan dalam latar belakang masalah ini bermaksud memberikan mengapa masalah yang diteliti itu timbul dan penting dilihat dari segi profesi penelitian, pengembangan ilmu dan kepentingan pembangunan. Yang perlu disajikan dalam latar belakang masalah adalah apa yang membuat peneliti merasa gelisah dan resah sekiranya masalah tersebut tidak diteliti. Dalam latar belakang masalah sebaiknya diungkapkan gejala-gejala kesenjangan yang terdapat di lapangan sebagai dasar pemikiran untuk memunculkan permasalahn. Adapun sebaiknya kalau diutarakan kerugian-kerugian apa yang bakal diderita apabila masalah tersebut dibiarkan tidak diteliti dan keuntunga-keuntungan apa yang dikiranya bakal diperoleh apabila masalah tersebut diteliti.
Disamping itu, perlu pula diuraikan secara jelas tentang kedudukan masalah yang hendak diteliti itu dalam wilayah bidang studi yang ditekuni oleh peneliti itu. Untuk mampu merumuskan latar belakang masalah secara runtut, jelas dan tajam, maka mahasiswa dituntut untuk mampu membaca dan memaknakan gejala-gejala yang muncul dalam dunia pendidikan. Untuk itu pengetahuan mahasiswa yang luas dan terpadu mengenai teori-teori dan hasil-hasil penelitian terdahulu yang terkait merupakan syarat mutlak. Ini merupakan alasan lain mengapa penelaahan terhadap jurnal-jurnal hasil penelitian terdahulu yang terkait harus sejak awal dilakukan.
B. Rumusan Masalah
Setiap penelitian yang akan dilakukan harus selalu berangkat dari masalah. Walaupun diakui bahwa, memilih masalah penelitian sering merupakan hal yang paling sulit dalam proses penelitian. Bila dalam penelitian telah dapat menemukan masalah yang betul-betul masalah, maka sebenarnya pekerjaan penelitian itu 50% telah selesai. Oleh katena itu menemukan masalah dalam penelitian merupakan pekerjaan yang tidak mudah, tetapi setelah masalah dapat ditemukan, maka pekerjaan penelitian akan segera dapat dilakukan.
Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi. Masalah dapat diketahui atau dicari apabila terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan kenyatan, antara yang direncanakan dengan kenyataan, adanya pengaduan dan kompetisi.
Hubungan antara ketepatan memilih masalah dan cara pemecahan ditunjukan pada table berikut:
Ketepatan masalah Ketepatan cara pemecahan
1. Masalah benar
2. Masalah benar
3. Masalah salah
4. Masalah salah Cara Pemecahan benar
Cara pemecahan salah
Cara Pemecahan benar
Cara pemecahan salah

Berdasarkan tabel di atas, bila dilihat dari sudut pandang penelitian ilmiah, maka yang paling baik adalah yang pertama, yaitu pemilihan masalah benar, dan pemecahannya juga benar.
Supaya peneliti dapat menggali masalah dengan baik, maka peneliti harus menguasai teori melalui membaca berbagai referensi. Selanjutnya supaya masalah dapat dijawab dengan baik, masalah tersebut dirumuskan secara spesifik, dan pada umumnya dibuat dalam kalimat tanya (?).
Sebelum merumuskan masalah, diawali dengan “Identifikasi masalah” yang masih bersifat umum artinya menentukan hal-hal yang dapat mempengaruhi masalah yang ada, sedang perumusan masalah sudah jelas hanya pada masalah yang akan diteliti saja. Kemudian untuk mengungkapkan masalah, selalu dengan menggunakan kalimat tanya (?) Contoh: seberapa besar …..? atau sejau mana ….? Dan lain sebagainya
Merumuskan masalah merupakan pekerjaan yang sukar bagi setiap peneliti. Hal yang dapat menolong mahasiswa keluar dari kesulitan merumuskan judul dan masalah adalah pengetahuan yang luas dan terpadu mengenai teori-teori dan hasil-hasil penelitian para pakar terdahulu dalam bidang-bidang yang terkait dengan masalah yang akan diteliti. Dalam rumusan dan analisis masalah sekaligus juga diidentifikasi variabel-variabel yang dalam penelitian serta definisi operasionalnya. Untuk mempermudah, maka rumusan masalah dapat dinyatakan dalam bentuk kalimat bertanya setelah didahului uraian tentang masalah penelitian, variabel-variabel yang diteliti, dan kaitan antara satu variabel dengan variabel lainya.
Fraenkel dan Wallen (1990) mengemukakan bahwa masalah penelitian yang baik adalah:
1. Masalah harus feasible, dalam arti masalah tersebut harus dapat dicarikan jawabannya melalui sumber yang jelas, tidak banyak menghabiskan dana, tenaga dan waktu.
2. Masalah harus jelas, yaitu semua orang memberikan persepsi yang sama terhadap masalah tersebut.
3. Masalah harus signifikan, dalam arti jawaban atas masalah itu harus memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu dan pemecahan masalah kehidupan manusia.
4. Masalah bersifat etis, yaitu tidak berkenaan dengan hal-hal yang bersifat etika, moral, nilai-nilai keyakinan dan agama. Mungkin tidak etis melakukan penelitian yang berkaitan dengan agama, suku, atau keyakinan adapt istiadat dari kelompok masyarakat tertentu.
Bentuk-bentuk masalah penelitian
Bentuk-bentuk masalah penelitian ini dikembangkan berdasar-kan penelitian menurut tingkat eksplanasi. Hal ini disebabkan oleh karena pada dasarnya hasil penelitian nanti digunakan untuk menjelaskan fenomena berdasarkan data yang terkumpul. Berdasarkan hal tersebut, maka bentuk masalah dapat dikelompokkan kedalam bentuk sebagai berikut:
1. Permasalahan deskriptif
Permasalahan deskriptif adalah suatu permasalahan yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri/bebas). Jadi dalam penelitian ini peneliti tidak membuat perbandingan variabel itu pada sampel yang lain, dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel yang lain. Penelitian semacam ini untuk selanjutnya dinamakan penelitian diskriptif.
Contoh rumusan masalah deskriptif
1). Seberapa baik kinerja Pegawai Negeri Sipil
2). Bagaimanakah sikap masyarakat terhadap Perguruan Tinggi Negeri berbadan hukum?
3). Seberapa tinggi efektivitas kebijakan mobil berpenumpang tiga di Jakarta?
4). Seberapa tinggi tingkat kepausan dan apresiasi masyarakat terhadap pelayanan Pemerintah Daerah di bidang kesehatan?
2. Permasalahan komparatif
Permasalahan komparatif adalah suatu permasalahan penelitian yang bersifat membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda.
Contoh rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1). Adakah perbedaan produktivitas kerja antara PNS, BUMN dan swasta? (satu variabel pada 3 sampel)
2). Adakah kesamaan cara promosi antara perusahaan A dan B?
3). Adakah perbedaan, kemampuan dan disiplin kerja antara pegawai swasta nasional dan perusahaan asing? (dua variabel, pada dua sampel)
4). Adakah perbedaan kenyamanan naik kereta api dan bus menurut berbagai kelompok masyarakat?
5). Adakah perbedaan daya tahan berdiri pelayan took yang berasal dari kota dan desa, gunung? (satu variabel pada 3 sampel).
6). Adakah perbedaan tingkat kepuasan masyarakat di Kabupaten A dan B dalam hal pelayanan kesehatan?
3. Permasalahan asosiatif.
Permasalahan asosiatif adalah suatu permasalahan penelitian yang bersifat hubungan antara dua variabel atau lebih. Terdapat tiga bentuk hubungan yaitu:
a. Hubungan Simetris, adalah suatu hubungan antara dua variabel atau lebih yang kebetulan munculnya bersama. Jadi bukan hubungan kausal maupun interaktif. Contoh rumusan masalahnya sebagaiberikut:
1). Adakah hubungan antara banyaknya semut di pohon dengan tingkat manisnya buah?
2). Adakah hubungan antar warna rambut dengan kemampuan memimpin?
3). Adakah hubungan antara jumlah paying yang terjual dengan jumlah kejahatan?
4). Adakah hubungan antara banyaknya radio di pedesaan dengan sepatu yang dibeli?
b. Hubungan kausal, adalah hubungan yang besifat sebab akibat. Jadi disini ada variabel independent (variabel yang mempengaruhi/ bebas) dan dependent (dipengaruhi/terikat).
Contoh:
1). Adakah pengaruh system penggajian terhadap prestasi kerja?
2). Seberapa besar pengaruh kepemimpinan nasional terhadap perilaku masyarakat?
3). Seberapa besar pengaruh tata ruang kantor terhadap efisiensi kerja karyawan?
4). Seberapa besar pengaruh kurikulu, media pendidikan dan kualitas guru terhadap kualitas SDM yang dihasilkan dari suatu sekolah?
c. Hubungan interaktif/reciprocal/timbale balik, adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Disini tidak diketahui mana variabel independent dan dependent.
Contoh:
1). Hubungan antara motivasi dan prestasi. Disini dapat dinyatakan motivasi mempengaruhi prestasi dan juga prestasi mempengaruhi motivasi.
2). Hubungan antara kecerdasan dengan kekayaan. Kecerdasan dapat menyebabkan kaya, demikian juga orang yang kaya dapat meningkatkan kecerdasan karena gizi terpenuhi.

C. Tujuan Penelitian/Studi
Rumusan tujuan penelitian/studi ini menyajikan hasil yang ingin dicapai setelah penelitian selesai dilakukan. Oleh sebab itu rumusan tujuan ini harus konsisten dengan rumusan masalah dan mencerminkan pula proses penelitiannya. Rumusan tujuan penelitian tidak boleh sama dengan rumusan maksud Penelitian skripsi yang ditulis pada halaman sampul luar dan halaman sampul dalam.
Tujuan penelitian terdiri atas tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum menggambarkan secara singkat dalam satu klalimat apa yang ingin dicapai melalui penelitian. Tujuan khusus dirumuskan dalam bentuk butir-butir (misalnya, 1,2,3, dst) yang secara spesifik mengacu kepada pertanyaan-pertanyaan penelitian.

D. Hipotesis
“Hipotesis” sebagai jawaban sementara, harus dilatar-belakangi dengan pemahaman yang sudah ada baik pengetahuan sejak kuliah maupun dari pendapat para ahli. Hipotesis merupakan jawaban sementara terahadap masalah atau sub masalah yang diajukan oleh peneliti, yang dijabarkan dari landasan teori atau tinjauan pustaka dan masih harus diuji kebenarannya. Melalui penelitian ilmiah, hipotesis akan dinyatakan ditolak atau diterima.
Hipotesis ini harus dibuat dalam setiap penelitian yang bersifat analitis. Untuk penelitian yang bersifat diskriptif, yang bermaksud mendeskrepsikan masalah yang diteliti, hipotesis tidak perlu dibuat, oleh karena memang tidak ada tempatnya.
Hipotesis penelitian harus dirumuskan dalam kalimat afirmatif. Hipotesis tidak boleh dirumuskan dalam kalimat bertanya, kalimat menyeluruh, kalimat menyarankan, atau kalimat mengharapkan.
Untuk menjawab rumusan masalah yang sifatnya sementara (berhipotesis), maka peneliti dapat membaca referensi teoritis yang relevan dengan masalah dan berfikir. Selain itu penemuan penelitian sebelumnya yang relevan juga dapat digunakan sebagai bahan untuk memberikan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian (hipotesis). Jadi kalau jawaban terhadap rumusan masalah yang baru didasarkan pada teori dan didukung oleh penelitian yang relevan, tetapi belum ada pembuktian secara empiris (factual), maka jawaban itu disebut hipotesis.

BAB II KAJIAN PUSTAKA/KERANGKA TEORETIS
Kerangka berfikir merupakan konsep yang sudah ada atau yang sudah dipahami, sebagai landasan dalam suatu penelitian. Kerangka berfikir, dasarnya tetap mengacu pada teori/pengalaman hidup, yang berupa: (1) Pengetahuan; (2) Persepsi dan (3) Kognisi.
Dalam tinjauan teori mengacu pada teori yang sudah ada yang bersifat Rasional. Teori, karena pada dasarnya suatu teori itu tidak ada yang khusus. Suatu teori umumnya bersifat deduktif koherensi, artinya dapt dilihat ke lapangan, sedangkan teori secara empiris bersifat induktif dan korespondensi.
Syarat suatu ilmu harus ilmiah, artinya berdasarkan Empiris (sesuai fakta) dan rasional.
Ada 3 kebenaran suatu ilmu yaitu:
1. induktifartinya ditarik dari khusus ke umum
2. korespodensi artinya berhubungan
3. pragmatis artinya ada manfaatnya
Koherensi/keterkaitan yang secara deduktif (khusus ke umum), benar kalau terkait dengan teori. Gren Teori (teori yang memayungi), yaitu teori yang sesuai dengan keahliannya (Fakultas dan jurusan peneliti) misalnya jurusan: Pendidikan Agama Islam. Judul dihubungkan dengan teori ini, variabel bisa ditarik kesini. Ditutup kalimat dengan sub/bagian kecil, misalnya pendidikan Agama Islam.
Kajian pustaka sangat penting dalam suatu karya ilmiah karena melalui kajian pustaka ditunjukkan “the state of the art” dari teori yang sedang dikaji dan kedudukan masalah penelitian dalam bidang ilmu yang diteliti. Fungsi lain dari kajian pustaka adalah sebagai landasan teoritik dalam analisis temuan. Kajian pustaka harus memuat hal-hal berikut ini:
(a). Apakah teori-teori utama dan teori-teori turunannya dalam bidang yang dikaji;
(b). Apa yang telah dilakukan oleh orang lain atau peneliti lain dalam bidang yang diteliti, bagaimana mereka melakukannya (prosedur, subyek), dan temuanya;
(c). Posisi teoretik penelitian yang berkenaan dengan masalah yang diteliti.
Dalam melaporkan hasil kajiannya, peneliti membandingkan, mengontraskan, meletakkan tempat kedudukan masing-masing. Dalam masalah yang sedang diteliti, dan pada akhirnya menyatakan posisi/pendirian penelitian disertai alasan-alasanya. Telaah teoretis dimaksudkan untuk menampilkan “mengapa dan bagaimana” teori dan hasil penelitian para pakar terdahulu itu dipergunakan oleh peneliti dalam penelitiannya, termasuk di dalamnya merumuskan asumsi-asumsi penelitiannya.
Dalam prakteknya, judul Bab II disesuaikan dengan masalahnya, tapi dapat juga diberi judul KAJIAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, atau KAJIAN TEORI. Karena isinya telah tergambar dalam judul penelitian. Bila dikehendaki, kajian pustaka dapat dituangkan dalam dua bab, masing-masing mengemukakan tentang teori-teori dan hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan, dan bab lainnya menjelaskan secara rinci teori yang digunakan dalam penelitian ini.

BAB III METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan metode ilmiah yaitu suatu proses penyelidikan yang melibatkan obyektivitas (dengan mengamati situasi, fenomena berdasarkan bukti-bukti factual tanpa bias) dan penggunaan data empiris secara sistematis. Memang metode ilmiah tidak selalu merupakan cara penyelidikan yang harus dikerjakan. Hal ini sangat tergantung pada keperluan, tetapi terutama digunakan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Seorang pedagang bakso tidak perlu menggunakan metode penelitian ilmiah untuk meningkatkan angka penjualan atau belanja daging yang diperlukan untuk seminggu. Sebaliknya seorang pimpinan sekolah atau seorang divisi pemasaran suatu perusahaan mungkin perlu melakukan penelitian dengan metode ilmiah untuk mempelajari karakteristik konsumen agar dapat menyusun strategi guna meningkatkan mutu sekolah atau penjualan produk perusahaannya.
Secara umum, metode ilmiah meliputi beberapa langkah antara lain: (1) pernyataan masalah (atau maksud penelitian); (2) formulasi hipotesis yang akan diuji; (3) pengumpulan fakta yang diperoleh lewat pengamatan atau eksperimentasi; (4) kompilasi dan penafsiran data yang diperoleh, dan (5) pembuatan kesimpulan. Tentu saja lima langkah ini tidaklah mutlak. Ada beberapa variasi langkah tergantung penulisan. Dalam penelitian pendidikan, Barnes mengemukakan langkah-langkah sebagai berikut: formulasi masalah, pengumpulan informasi yang melatar-belakangi masalah, formulasi hipotesis, pengembangan metodologi, analisis data, dan kesimpulan terkait denga hipotesis. Sementara itu penulis lain mengajukan langkah pertama yang lebih rinci yaitu: mengidentifikasi, membatasi, dan merumuskan permasalahan.
Terlepas dari variasi yang ada, bilamana suatu rencana penelitian sudah diformulasikan, langkah berikutnya adalah menyususn rancangan penelitian itu sendiri. Dalam hal ini yang perlu direncanakan dan dipikirkan antara lain: pendekatan apa yang akan digunakan terhadap permasalahan? Metode apa yang akan digunakan? Strategi apa yang paling efektif untuk dilaksanakan. Rancangan penelitian yang diputuskan bergantung pada maksud penelitian, sifat permasalahan dan alternative yang cocok untuk penyelidikannya. Sifat permasalahan memagang peran penting dalam menentukan pendekatan yang cocok.
Berdasarkan ciri-ciri permasalahan yang berbeda-beda, dikenal beberapa alternative rancangan yang diorganisasikan kedalam sembilan katagori fungsional yaitu: (1) histories atau sejarah; (2) diskriptif; (3); perkembangan; (4) kasus atau lapamngan; (5) korelasional; (6) kausal komparatif; (7) eksperimen-murni; (8) eksperimen-kuasi; dan (9) tindakan.
Untuk memberi gambanran lebih lanjut, berikut ini sedikit penjelasan tentang beberapa rancangan penelitian yang bisas digunakan dalam beberapa penelitian.
Metode Penelitian Maksud
Survey Mempelajari data dari sampel yang diambil dari suatu proposal untuk generalisasi.
Sejarah Merekonstruksikan masa lalu secara obyektif dan akurat seringkali dalam hubungannya dengan dapat dipertahankannya suatu hipotesis.
Deskriptif Mendeskripsi secara sistematis suatu situasi atau bidang minat secara factual dan akurat.
Perkembangan Menyelidiki pola dan urutan pertumbuhan dan/atau perubahan sebagai fungsi waktu.
Ex-posfakto Meneliti peristiwa yang telah terjadi dan kemudian
(kausal komparatif) merunut ke belakang untuk mengetahui factor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut.
Eksperimen Mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel lain dalam kondisi yang terkontrol ketat.
Eksperimen-quasi Mengira-irakan kondisi eksperimen dalam suatu seting yang tidak memungkinkan kontrol dan/atau manipulasi semua variabel yang relevan
Naturalistik Meneliti kondisi obyek alamiah lewat pengumpulan data yang dilakukan secara induktif dan hasilnya lebih ditekankan pada maksa dari pada generalisasi.
Kebijakan Meneliti masalah-masalah social yang mendasar dan temuannya dapat direkomendasikan kepada pembuat kebijakan.
Tindakan Mengembangkan metode kerja, keterampilan baru atau pendekatan baru yang paling efisien sehingga produktivitas meningkat.
Kasus dan lapangan Mempelajari secara intensif latar belakang, status kini dan interaksi lingkungan unit sosial tertentu; perseorangan, kelompok institusi atau komunitas.
Korelasi Menyelidiki sejauh mana variasi dalam satu factor berkaitan dengan variasi dalam satu atau lebih faktor lain berdasarkan koefisien korelasi.
Kedalam metode penelitian, dimasukkan teknik pengumpulan data. Dalam hal ini, dapat disebut metode penelitian historis, deskriptif, inferensial, atau eksperimental. Sedangkan dalam hal teknik pengumpulan data dapat disebut teknik angket, wawancara, observasi partisipatif, observasi non-partisipatif, atau test. Jika dipandang perlu dapat pula dimasukan pendekatan sosiologis, pendekatan edukatif, dan sebagainya. Kedalam bab ini juga dimasukan proses pengembangan instrumen penelitian, bila ada instrumen yang secara khusus digunakan untuk mengumpulkan data.
Dalam Desain penelitian, yang bersifat deskripsi korelasional dan regresi, peneliti menggambarkan (deskripsi) hubungan (korelasi) antara berbagai variabel yang diteliti. Penelitian deskripsi korelasional, dapat memberikan gambaran dan menemukan hubungan antara satu variabel lain atau antara berbagai objek penelitian.
Desain penelitian deskripsi korelasional dapat menguji hipotesis “korelasi variavel X dengan variabel Y”. Pola hubungan/pengaruh kedua variabel yang akan diteliti digambarkan sebagaiman gambar berikut:
Model Konstelasi Antara Variabel Penelitian




rYX

Keterangan:
X = Variabel Bebas
Y = Variabel Terikat
 = Epsilon, faktor lain diluar X yang mempengaruhi Y,
akan tetapi tidak diteliti.
rYX = Korelasi X terhadap Y

Penelitian dilakukan untuk menguji:
Seberapa besar pengaruh/korelasi variabel bebas terhadap variabel terikat di tempat tertentu?

Operasional Variabel
Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian titarik kesimpulannya.
Secara teoritis, variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau obyek yang mempunyai “variasi” antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan obyek yang lain. Variabel juga dapat merupakan atribut dari bidang keilmuan atau kegiatan tertentu. Tinggi, berat badan, sikap, motivasi, kepemimpinan, disiplin kerja, merupakan atribut-atribut dari setiap orang. Dinamakan variabel karena ada variasinya. Variabel juga dapat diartikan sebagai konstruk (constructs) atau sifat yang akan dipelajari. Misalnya: tingkat aspirasi, penghasilan, pendidikan, status social, jenis kelamin, golongan, gaji, produktivitas kerja dll.
Operasional dirumuskan untuk setiap variabel sampai melahirkan indikator-indikator dari setiap variabel yang diteliti, yang kemudian akan dijabarkan dalam instrumen penelitian berupa pertanyaan/pernyataan dalam angket/koesioner yang diisi oleh responden.
Operasionalisasi variabel penelitian ini dapat dibuat tabel berikut:
Variabel Dimensi Indikator Butir
(X) 1.
2. 1.
2.
(Y) 1.
2. 1.
2.
Instrumen
Untuk mencapai suatu kesimpulan dalam penelitian atau evaluasi, hal yang pertama kali harus ditetapkan adalah kritera yang dapat digunakan untuk mendasari kesimpulan dan selanjutnya membuat pengukuran terhadap criteria tadi. Dalam kaitan ini proses pemilihan atau pengembangan alat pengukuran dan metode yang sesuai untuk masalah yang dievaluasi dikenal dengan istilah instrumentasi. Dengan proses semacam ini akan diperoleh intrumen yang dalam penelitian dapat digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan data dan mengukur nilai variabel yang diteliti.
Berbagai pendekatan untuk masalah pengukuran telah dikembangkan, tetapi ada pertanyaan yang mendasar antara lain: (1) apa dapat diandalkan (reliable)?- sebagai instrumen pengukur apa tepat, tetap azas dan stabil, (2) apa sahih (valid)?- sebagai instrument pengukur apa benar-benar mengukur yang seharusnya dan apa…?

Skala Pengukuran
Berbagai instrumen penelitian sudah dibakukan dan digunakan, tetapi karena sifat penelitiannya, seringkali masih banyak yang harus dikembangkan sendiri oleh peneliti. Karena instrument penelitian pada dasarnya akan digunakan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka setiap instrument harus memiliki skala.
Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur. Oleh karena itu bila digunakan dalam suatu pengukuran, alat ukur tersebut akan menghasilkan data kuantitatif. Dengan skala pengukuran, maka nilai variabel yang diukur dengan instrument tertentu dapat dinyatakan dalam angka sehingga akan lebih akurat, efisien dan komunikatif. Berbagai macam skala pengukuran dapat dijumpai dalam penelitian yang dapat dikelompokkan menjadi skala nominal, skala ordinal, skala interval dan skala rasio.

B. Sampel Penelitian dan Lokasi
Disamping menyebut lokasi dan sampel penelitian pada bagian ini juga harus disebutkan alasan mengapa penelitian itu dilakukan di tempat itu dan dengan subjek penelitian itu. Alasan ini akan menjadi kuat apabila dikaitkan dengan rumusan masalah, latar belakang masalah, dan tujuan penelitian, serta teknik analisis data.
Bab ini merupakan penjabaran lebih rinci tentang metode penelitian yang secara garis besar telah disinggung pada Bab I. Pembatasan istilah yang ada pada judul dan variabel yang diteliti dalam penelitian juga dijelaskan dalam bab ini. Semua prosedur dan tahap-tahap penelitian mulai persiapan hingga penelitian berakhir dijelaskan dalam bab ini. Disamping itu, dilaporkan juga tentang instrumen yang digunakan beserta proses pengembangan, uji validitas dan reliabilitasnya. Sangat penting untuk dijelaskan mengapa sesuatu teknik atau prosedur/metode dipilih oleh peneliti.
Apabila seluruh populasi diteliti seluruhnya berarti kebenaran yang sesungguhnya (true score). Sedangkan alasan menentukan sampel karena populasi tidak mungkin terjangkau seluruhnya, menggunakan uji statistic dan kebenarannya sebagai perkiraan (estimate score).
Populasi yang merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas subyek atau obyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Misalnya ditentukan Populasi penelitian adalah jumlah Guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada 3 SMA Negeri di Kota Tangerang, dengan peringkat terbaik, sedang dan rendah berdasarkan peringkat sekolah hasil Ujian Nasional tahun 2003/2004 dari 7 SMA Negeri yang mengikuti Ujian Nasional (Data Peringkat Sekolah Dinas Pendidikan Propinsi Banten, 2004: 177-178) yaitu: (1) SMA.N-1; (2) SMA.N-2; (3) SMA.N-7; (4).SMA.N-3; (5).SMA.N-4; (6).SMA.N-5; (7).SMA.N-6.
Adapun jumlah populasinya sebanyak 137 Guru PNS, yaitu: Guru SMAN.1 sejumlah 33 orang (peringkat 1), Guru SMAN.7 sejumlah 45 orang (peringkat 3), Guru SMAN.6 sejumalah 59 orang (peringkat 7).
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiono, 2005: 91), Karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Kemudian kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Jumlah sampel dapat menggunakan rumus dalam Sugiyono (2005: 68) berikut:
n =
Dimana: n = Sampel
N = Populasi
e = Nilai kritis
Jumlah populasi = 137 orang, apabila nilai kritis (tingkat kesalahan) sebesar 5% dengan taraf kepercayaan 95%, maka jumlah sampel ditentukan sebesar:
n =
137
n =
1 + 137 (5 %)2
137 137
n = =
1 + 137 ( 0,0025) 1 + 0,3425

= 102,048 dibulatkan menjadi 102
Dengan perhitungannya sebagai berikut:
Tabel Responden Guru SMA Negeri Kota Tangerang
POPULASI SAMPEL
SMAN.1 33 SMAN.1 25
SMAN.7 45 SMAN.7 33
SMAN.6 59 SMAN.6 44
JUMLAH 137 JUMLAH 102
C. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

1. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada obyek tertentu baik yang berbentuk populasi maupun sampel. Bila peneliti ingin membuat generalisasi terhadap temuanya, maka sampel yang diambil harus representatif.
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian diantaranya dapat menggunakan cara:
1). Angket, yaitu sejumlah pertanyaan tertulis disertai alternatif jawabannya yang diberikan kepada responden.
2). Wawancara.
3). Observasi
4). Survey.
5). Studi kepustakaan yaitu pengumpulan data dengan cara mempelajari dan menganalisis teori-teori yang relevan dengan masalah yang dikaji.
6) Dan lain-lain.
Setelah data terkumpul, maka selanjutnya dianalisis untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis yang diajukan dengan teknik statistik tertentu. Berdasarkan analisis ini apakah hipotesis yang diajukan ditolak atau diterima atau apakah penmuan iu sesuai dengan hipotesis yang diajukan atau tidak.

2. Alat Pengumpulan Data
Angket yang digunakan dalam penelitian merujuk pada skala model Linkert. Skala berisi sejumlah pernyataan yang menyatakan objek yang hendak diungkap. Penskoran atas koesioner skala model Linkert yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada lima alternatif jawaban.
Untuk keperluan analisis secara kuantitatif, maka jawaban dalam angket diberi skor (angka) sebagai berikut:
1). Sangat Setuju (SS) skor : 5
2). Setuju (S) skor : 4
3). Ragu-ragu (RR) skor : 3
4). Kurang Setuju (KS) skor : 2
5). Tidak Setuju (TS) skor : 1

3. Analisis Data
a. Langkah-langkah yang ditempuh dalam melakukan analisis data adalah sebagai berikut:
1). Mengumpulkan dan menyeleksi data yang telah terkumpul
2) Mengklasifikasi data
3). Menskor data
4). Mentabulasi data
5). Menguji normalitas data
6) Melakukan uji statistik
7). Mendeskripsikan data (menganalisa data)
Semua data dari hasil penyebaran angket diberi skor dan dianalisis dengan menggunakan uji statistik. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik korelasi dan regresi, yaitu dengan korelasi sederhana untuk menentukan ada atau tidaknya hubungan masing-masing variabel X dan Y, regresi sederhana, untuk menentukan kecenderungan konstribusi masing-masing variabel X terhadap Y, Untuk menggunakan analisis regresi, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi yaitu 1) Sampel diambil secara acak. 2) Variabel berhubungan secara linear. 3) Variabelnya berdistribusi normal atau mendekati normal.
b. Pengujian persyaratan analisis data, yaitu uji validitas, ujia reliabilitas dan uji normalitas dapat menggunakan program SPSS. Misalnya Uji validitas dan reliabilitas pada penelitian ini dilakukan dengan One Shot (sekali ukur). Untuk mengetahui validitas butir pertanyaan tersebut harus membadingkan dengan r tabel. R tabel pada α 0,05 dengan derajat bebas df = jumlah kasus-2, dalam buku: Masalah Statistik dan Rancangan Percobaan dengan SPSS 12, (Arif Pratisto, 2004: 254). Sedangkan Uji normalitas dapat menggunakan Nilai Skewness. Nilai Skewness digunakan untuk mengetahui bagaimana distribusi normal data dalam variabel dengan menilai kemiringan kurva. Nilai Skewness yang baik adalah mendekati 0 (nol). Jika kemiringan dilihat dari nilai Skewness, nilai Skewness ini bersifat mutlak (+/-), sedangkan ketinggian kurva dilihat dari nilai kurtosis. Nilai kurtosis tidak berpengaruh terhadap penilaian distribusi normal, dalam buku: Strategi Jitu memilih Metode Statistik Penelitian dengan SPSS 12, (Bhuono Agung Nugroho, 2005: 18).
Validitas, salah satunya validitas logis = disusun berdasarkan dimensi dan indicator berdasarkan teori yang valaid
Untuk menguji hipotesis tersebut peneliti dapat memilih metode/strategi/pendekatan/desain penelitian yang sesuai. Pertimbangan ideal untuk memilih metode itu adalah tingkat ketelitian data yang diharapkan dan konsisten yang dikehendaki. Sedangkan pertimbangan praktis, adalah tersedianya dana, waktu, dan kemudahan yang lain. Dalam penelitian kuantitatif, metode penelitian yang dapat digunakan adalah metode survey, Ex Post Facto, eksperimen, evaluasi, action research, policy research (selain metode naturalistic dan sejarah).

Rancangan Uji Hipotesis
Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Ho ρ : Tidak terdapat …… terhadap/dengan ……
Ha ρ : Terdapat …….. terhadap/dengan …….
ρyx = 0 Ho diterima, bila t-hitung < t-tabel.
ρyx  0 Ha diterima, bila t-hitung > t-tabel
Hipotesis yang diajukan dalam melakukan pengujian koefisien sederhana dan koefisien regresi sederhana adalah:
Ho: ρ = 0 (koefisien korelasi sederhana tidak sinifikan).
Ha: ρ ≠ 0 (koefisien korelasi sederhana signifikan).
Kriteria pengujian hipotesis sebagai beriku:
Jika nilai t-test < dari nilai t-tabel, maka Ho diterima
Jika nilai t-test > dari nilai t-tabel, maka Ha diterima.
Untuk mengetahui t-tabel digunakan ketentuan derajad kebebasan = n-2 pada level of significance () sebesar 5 % (tingkat kesalahan 5 % atao 0.05) atau tarafd keyakinan 95 % atau 0.95. Jadi apabila tingkat kesalahan suatu variabel lebih dari 5 % berarti variabel tersebut tidak signifikan.

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA
Pada dasarnya bab ini memuat dua hal utama yaitu pengolahan/analisis data untuk menghasilakn temuan dan pembahasan/ analisis temuan. Pengolahan data menjadi temuan dapat dilakukan menurut prosedur penelitian kuantitatif tetapi dapat juga dilakukan melalui judul penelitian kualitatif. Uji hipotesis dilakukan sebagai bagian dalam analisis data. Prosedur pengolahan data mana yang dipilih harus sesuai dengan desain penelitian yang dinyatakan dalam Bab III.
Bagian pembahasan/analisis temuan mendiskusikan temuan tersebut dengan menggunakan dasar teoritik yang telah dibahas dalam bab II. Pembahasan ini akan memperlihatkan konsekuensi temuan terhadap teori, jika hipotesis = nol ditolak atau hipotesis ≠ 0 diterima, jika penelitian tersebut bersifak kuantitatif. Dalam penelitian kualitatif hal yang sama dapat terjadi walaupun bukan dalam terminologi penolakan atau penerimaan hipotesis, tetapi akan merupakan bahasan yang sangat kaya terkait dengan teori yang digunakan dalam bab II.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan adalah langkah teralhir dari suatu periode penelitian yang berupa jawaban terhadap rumusan masalah. Walaupun langkah penelitian kuantitatif tersebut bersifat linier. Tetapi tidak berarti penelitian berakhir di situ. Proses penelitian kuantitatif itu dapat juga dilakukan secara berulang-ulang seperti pada proses penelitian kualitatif, pengulangan dalam penelitian kuantitatif dilakukan dalam rangka mendapatkan konsistensi/reliabilitas data penelitian dan membuktikan penelitian yang telah ada.
Dalam bab ini disajikan penafsiran/pemaknaan peneliti berupa kesimpulan terhadap semua hasil penelitian yang telah diperolehnya. Dalam menuliskan kesimpulan dapat ditempuh salah satu cara dari dua cara berikut: (a). dengan cara butir demi butir, atau (b) dengan cara esei padat. Untuk karya tulis ilmiah seperti skripsi, makna Penelitian kesimpulan dengan cara esei padat lebih baik dari pada dengan cara butir demi butir.
Implikasi atau rekomendasi yang ditulis setelah kesimpulan dapat ditunjukkan kepada para pembuat kebijakan, kepada para pengguna hasil penelitian yang bersangkutan dan kepada peneliti berikutnya yang berminat untuk melakukan penelitian selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Daftar pustaka memuat semua sumber tertulis (buku, artikel, jurnal, dokumen resmi, atau sumber-sumber lainnya dari internet) atau tercetak (misalnya Compact disk, video, film atau kaset) yang pernah dikutip atau digunakan dalam Penelitian karya tulis ilmiah Semua sumber tertulis atau tercetak yang tercantum dalam uraian harus dicantumkan dalam daftar pustaka. Di pihak lain, sumber-sumber yang tidak pernah dipergunakan dalam Penelitian karya tulis ilmiah tersebut atau tidak dikutip, tidak perlu dicantumkan dalam daftar pustaka, walaupun pernah dibaca oleh peneliti.
Cara menulis daftar pustaka berurutan secara alfabetis tanpa nomor urut. Sumber tertulis/tercetak yang memakan tempat lebih dari satu baris, ditulis dengan jarak antar-baris satu spasi; sedangkan jarak antara sumber-sumber tertulis yang saling berurutan adalah dua spasi. Cara Penelitian Daftar Pustaka secara khusus dijelaskan pada bagian Teknik Penelitian.

LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran-lampiran berisi semua dokumen yang pernah digunakan dalam penelitian dan Penelitian hasil-hasilnya menjadi satu karya tulis ilmiah. Setiap lampiran diberi nomor urut sesuai dengan urutan penggunaanya. Disamping diberi nomor urut lampiran ini juga diberi Judul Lampiran. Nomor urut lampiran akan memudahkan pembaca untuk mengaitkannya dengan bab terkait. Apabila nomor urut lampiran tersebut terdiri atas dua angka Arab dengan selang satu tanda penghubung dimana angka depan menyatakan nomor urut bab yang bersangkutan dan angka belakang menyatakan nomor urut lampiran. Misalnya 1.2 artinya lampiran 2 dari Bab I.

RIWAYAT HIDUP
Riwayat hidup dibuat secara padat dan hanya menyampaikan hal-hal yang relevan dengan kegiatan ilmiah, tidak semua informasi tentang yang bersangkutan. Cakupannya adalah: nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan dan jabatan (bila telah bekerja), prestasi-prestasi yang pernah dicapai, dan karya ilmiah/publikasi yang telah dihasilkan atau diterbitkan. Riwayat hidup dapat dibuat dengan gaya butir per butir dan dapat pula dibuat dengan gaya esei padat. Dalam skripsi gaya kedua lebih tepat daripada gaya pertama.



BAB VI
TEKNIK PENELITIAN

1. Teknik Pengetikan
Skripsi ditulis dengan menggunakan kertas HVS 80 gram ukuran kuarto. Pengetikan skripsi perlu mengikuti aturan-aturan sebagai berikut:
a. Diketik dengan mengunakan komputer, huruf jenis Times New Roman ukuran 12, dicetak dalam quality letter.
b. Jarak antara baris satu dengan baris berikutnya pada isi Bab adalah dua spasi. Jarak pengetikan dua spasi ini berlaku pula pada jarak Penelitian pada daftar isi.
c. Batas tepi kiri, tepi atas, tepi kanan dan tepi bawah masing-masing adalah 4 cm, 4 cm, 3 cm, 3 cm.
d. Pengetikan paragraph baru dimulai dengan awal kalimat yang menjorok masuk kedalam dengan jarak lima pukulan dari tepi kiri.
e. Penelitian Judul Bab dalam sub-sub menggunakan HURUF KAPITAL SEMUA, tanpa garis bawah dan tanpa titik. Nomor Bab menggunakan angka Romawi. Setiap awal dari judul sub-sub harus ditulis dengan HURUF KAPITAL, kecuali kata sambung. Nomor urut bagi judul paragraph menggunakan angka Arab atau abjad.
f. Cara penomoran dapat menggunakan salah satu cara dari dua cara berikut ini:
Cara Pertama : I., A., 1., a., 1), a), (1), (a).
Cara kedua : I., 1., 1.1., 1.1.1., dst
Dalam suatu skripsi cara penomoran ini harus digunakan secara konsisten, jadi tidak boleh dicampuradukan. Kedua cara tersebut mengandung kelemahan. Kelemahan dalam cara pertama ialah memungkinkan terjadinya nomor yang sama dalam bab yang sama. Sedangkan kelemahan cara kedua akan mengambil ruang yang banyak sehingga memungkinkan sempitnya tempat untuk menulis uraian.
g. Perpindahan dari satu butir ke butir berikutnya tidak harus menjorok, melainkan dapat diketik lurus/simetris agar tidak mengambil terlalu banyak tempat dan demi keindahan format.
h. Penggunaan nomor urut sebagaimana disebutkan pada butir f di atas sebaiknya dibatasi dan jangan berlebihan, karena pada prinsipnya karya tulis ilmiah lebih banyak menggunakan uraian bukan pointers.
i. Judul tabel ditulis di sebelah atas tabel, sedangkan judul untuk bagan, diagram, atau gambar, ditulis di sebelah bawah.
2. Sampul Luar
Sampul luar skripsi, berisi: (1) Judul dengan huruf KAPITAL SEMUA dan tidak boleh menggunakan singkatan; jika ada sub-judul, maka yang ditulis dengan huruf kapital hanya huruf awal dari setiap kata, (2) Maksud Penelitian skripsi; (3) Logo Perguruan Tinggi; (4) Nama Peneliti; (5) Nomor Induk; (6) Nama Program dan Perguruan Tinggi (7) Tahun Penelitian.
3. Sampul Dalam
Isi sampul dalam sama pesis dengan apa yang tertulis dalam sampul luar.
4. Halaman Pernyataan
Halaman ini disediakan untuk pernyataan keaslian skripsi
5. Halaman Persetujuan
Halaman ini disediakan khusus untuk tanda tangan persetujuan dari para pembimbing dan ketua Jurusan/Program sebagai tanda mengetahui atas skripsi yang bersangkutan.
Nama Pembimbing ditulis lengkap dengan gelar akademiknya dengan menggunakan huruf kecil kecuali untuk huruf pertama. Misalnya Pof. Dr. H. Ahmad Sutarto, M.Si.
6. Cara Penelitian Kutipan dan Sumber Kutipan
Beberapa aturan yang perlu diketahui dalam Penelitian kutipan dan sumber kutipan sebagai berikut:
a. Kutipan ditulis dengan menggunakan “dua tanda petik” jika kutipan ini merupakan kutipan pertama atau dikutip dari Penelitinya. Jika kutipan itu diambil dari kutipan, maka kutipan tersebut ditulis dengan menggunakan ‘petik satu’.
b. Jika kalimat yang dikutip atas tiga baris atau kurang, kutipan ditulis dengan menggunakan tanda petik (sesuai dengan ketentuan pertama) dan Penelitiannya digabung ke dalam paragrap yang ditulis oleh pengutip dan diketik dengan jarak dua spasi.
c. Jika kalimat yang dikutip terdiri atas empat baris atau lebih, maka kutipan ditulis tanpa tanda kutip dan diketik dengan jarak satu spasi. Baris pertama diketik mulai pada pukulan keenam dan baris kedua diketik mulai pukulan ke empat.
d. Jika bagian dari kutipan ada bagian yang hilang, maka Penelitian bagian itu diganti dengan tiga buah titik.
e. Penelitian sumber kutipan ada beberapa kemungkinan seperti berikut:
1). Jika sumber kutipan mendahului kutipan, cara Penelitiannya adalah nama Peneliti yang diikuti dengan tahun penerbitan, dan nomor halaman yang dikutip yang keduanya diletakkan di dalam kurung.
Contoh:
Sebagaimana dikemukakan oleh Satori (2005: 43) bahwa “…”
2). Jika sumber kutipan ditulis setelah kutipan, maka nama Peneliti yang diikuti dengan tahun penerbitan, dan nomor halaman yang dikutip semuanya diletakkan di dalam kurung.
Contoh:
“ … “ (Satori , 2005: 43).
3) Jika sumber kutipan merujuk sumber lain atas bagian yang dikutip, maka sumber kutipan yang ditulis tetap sumber kutipan yang digunakan pengutip tetapi dengan menyebut siapa yang mengemukakan pendapat tersebut.
Contoh mengutip pendapat Satori dari buku yang ditulis Sutarto:
Satori (Sutarto, 2005: 43) mengemukakan bahwa “ …”
4). Jika masalah yang dikutip dibahas oleh beberapa orang dalam sumber yang berbeda maka cara Penelitian sumber kutipan itu sebagai berikut.
Beberapa studi tentang …. (Dunkey, 2003; Miggs, 2004; Parmenter, 2005) menunjukan bahwa ( tulis intisari yang dipadukan dari ketiga sumber tersebut).
5). Jika sumber kutipan itu adalah beberapa karya tulis dari Peneliti yang sama pada tahun yang sama maka cara Penelitiannya adalah dengan menambah huruf a, b, dst pada tahun penerbitan.
Contoh: (Satori, 2003a, 2003b).
6). Jika sumber kutipan itu tanpa nama, maka Penelitiannya adalah: (Tn. 2002: 18).
7). Jika yang diutarakan pokok-pokok pikiran seoarang Peneliti, tidak perlu ada kutipan langsung, cukup dengan menyebut sumbernya.



Catatan:
- Model kutipan ini tidak mengenal adanya catatan kaki untuk sumber dengan berbagai istilah seperti ibid., op.cit., loc.cit. vide dan seterusnya.
- Nama Peneliti dalam kutipan adalah nama belakang atau nama keluarga dan ditulis sama dangan daftar pustaka.
7. Cara Menulis Daftar Pustaka
Komponen-komponen yang harus dicantumkan dalam daftar pustaka ini adalah sebagai berikut:
a. Disusun secara afabetis. Jika huruf awal sama, maka huruf kedua dari nama Peneliti itu menjadi dasar urutan demikian seterusnya.
b. Nama Peneliti, dengan cara menuliskan terlebih dahulu nama belakang, baik nama asing maupun nama Indonesia.
c. Tahun penerbitan, judul sumber yang bersangkutan dengan cetak miring, kota tempat penerbitan, dan nama penerbit.
d. Baris pertama diketik mulai pukulan pertama dan baris kedua dan seterusnya diketik mulai pukulan kelima. Jarak antara baris satu dengan berikutnya satu spasi, sedangkan jarak antara sumber satu dengan sumber berikutnya dua spasi.
Contoh:
Boediono. 1998. Dampak Krisis Ekonomi terhadap Pendidikan. Jakarta: Pusat Penelitian Sains dan Teknologi UI.



DAFTAR PUSTAKA

Agib, Zaenal. Karya Tulis Ilmiah Bagi Pengembang Profesi Guru. Bandung: YRAMA WIDYA.
Antonius, 2004, Petunjuk Praktis Menyusun Karya Tulis Ilmiah. Bandung: CV.YRAMA WIDYA

Arif Pratisto, 2004. Cara Mudah Mengatasi Masalah Statistik dan Rancangan Percobaan dengan SPSS 12, Jakarta: PT Elex Media Komputindo).

Arikunto,Sukarsini, 1989. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta : Bina Aksara.

Arifin, E.Zaenal. 2003. Dasar-dasar Penelitian Karya Ilmiah. Jakarta: Grasindo

Bhuono Agung Nugroho, 2005. Strategi Jitu Memilih Metode Statistik Penelitian dengan SPSS. Yogyakarta: CV ANDI OFFSET.

Departemen Agama Republik Indonesia. 2003. Pedoman Penyusunan Sripsi. Jakarta: Universitas Islam Negri Jakarta.

Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Pedoman Penyusunan Karya Ilmiah. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Husaini Usman, 2004. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: Bumi Aksara
Husein Umar, 2004. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesisi Bisnis. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
John W. Creswell, 2002. Research Design. Jakarta: KIK Press
Judistira K.Garna, 1999. Metoda Penelitian Pendekatan Kualitatif. Bandung: Primaco Akademika C.V

Sugiyono, 2004. Metode Penelitain Administrasi, Bandung : Alfabeta

_________, 2005. Statistik Untuk Penelitain, Bandung : Alfabeta

Universitas Islam Syekh-Yusuf Tangerang. 2005. Panduan Penyusunan Tesis. Tangerang: Unis Tangerang.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar